Sabtu, 12 Mei 2012
KESAL!
Kesal! Kesal! Kesal! Hanya kata itu yang aku punya untuk hari ini. Aku tidak punya kata-kata lain selain kata kesal! Semua orang boleh kesal, mengapa aku tidak?
Semua orang membuat aku hari ini jadi malas untuk bicara, malas untuk beramah tamah, malas untuk berhaha hihi.
Aku sudah mencoba untuk bersikap wajar, tapi hanya mendapat balasan sikap cuek. Kalau yang lain bisa bersikap seperti itu mengapa aku tidak? Mengapa harus aku yang merasa tidak enak sementara yang lain bisa bersikap cuek?
Aku juga bisa cuek, aku juga bisa dengan duniaku sendiri. Lebih enak sendiri, mencintai duniaku sendiri. Hanya keyboard, PC, monitor, pena, buku tulis, tip ex yang akan setia menemani aku dan selalu bersedia kapan saja menjadi tempat untuk berbagi, tempat untuk mencurahkan segenap beban hati. Oh ya, satu pribadi lagi yang bisa menjadi tempat untuk menangis dan tempat untuk mengadu yaitu Tuhan, Sang Maha Pencipta. Hanya Dialah tempat yang paling nyaman dan aman untuk berbagi rasa.
Tak perlulah telinga manusia. Telinga mereka mendengar tapi, mulut mereka juga akan bekoar untuk menyampaikan lagi kepada yang lain. Lebih baik mulutku diam tanpa mengeluarkan kata-kata, ini yang terbaik. Semua rasa biar kurasa sendiri dan hanya akan kubagi pada buku tulisku dan Tuhanku saja. Teman, sahabat apalah itu namanya tetap saja tak bisa dipercaya. Katanya pengertian, apa lah artinya semua itu kalau disaat seperti sekarang tidak ada lagi manusianya. Lebih baik menjaga jarak, tidak perlu terlalu dekat dengan teman karena hanya akan menorehkan kekesalan.
Tidak usah berbagi lagi. Bersikap biasa sajalah. Aku hanya mengandalkan Tuhanku dan semua manusia di sekelilingku hanyalah orang-orang yang tidak bisa menghargai orang lain. Buat apa berdekat-dekatan dengan orang seperti itu, hanya akan membuat luka hati dan sebaiknya aku ambil nafas dalam-dalam dan buang sekuat-kuatnya sekaligus membuang bayangan orang-orang yang menyebalkan hingga lega hati ini.
Selasa, 08 Mei 2012
Sedekah Sepotong Roti
Suatu hari dikisahkan bahwa bangsa Israel sedang dilanda paceklik. Banyak orang yang menderita kelaparan. Tidak sedikit oula yang meninggal dunia akibat musibah kelaparan itu.Akan tetapi masih ada orang kaya yang tidak merasakan musibah itu. Orang kaya tersebut memiliki seorang anak gadis yang mulia hatinya.
Suatu malan, gadis itu sedang makan dan tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Berilah aku aku sedekah semata-mata karena Alloh, meskipun hanya sepotong roti !"
Gadis itu segera beranjak untuk menghampiri si pengemis. Kemudian dia memberikan sepotong roti kepada pengemis tersebut. Bersamaan dengan itu, ayahnya yang jahat dan kikir pulang sehabis kerja. Lelaki tersebut mengetahui perbuatan anak gadisnya itu. Ia pun melotot dan memarahi anak gadisnya. Si pengemis segera pergi melihat hal itu.
"Bodoh ! Apakah kamu tahu bahwa banyak orang sedang kelaparan. Mereka sedang kesulitan makan sekarang. Enak saja kamu memberikan roti kepada pengemis !" Hardik ayahnya.
"Pengemis itu kesulitan mendapatkan makanan Ayah,! maka aku memberikan sepotong roti untuknya," jawab gadis itu.
"Apa ? Sepotong roti itu sangat berarti. Kamu keterlaluan !." bentak ayahnya. Lalu lelaki itu bergegas ke dapur. Di sana ia mendapatkan pisau yang tajam. Sebentar saja, lelaki itu sudah sampai di hadapan anaknya, kemudian tangan kanan anaknya dipegangnya. Tiba-tiba pergelangan tangan kanan anak gadisnya itu dipotong dengan serta merta.
Tidak lama kemudian, lelaki itu jatuh bangkrut dan semakin menurun sehingga jatuh miskin. Hutangnya menumpuk dan membebani pikirannya. Akhirnya dia jatuh sakit dan meninggal dunia. Beberapa waktu setelah itu, istrinya pun menyusul kemudian. Kini gadis itu menjadi sebatang kara. Sementara itu, perekonomian negeri Israel kembali pulih. Orang-orang yang sebelumnya miskin menjadi makmur kembali. Akhirnya gadis itu terpaksa menjadi peminta minta demi menyambung hidupnya.
Suatu ketika, gadis itu berdiri di depan sebuah rumah yag sangat bagus. Dia berharap jika pemilik rumah kaya itu memberinya sepotong roti atau makanan apapun buat mengisi perutnya yang kosong.
Sesaat kemudian, keluarlah seorang wanita setengah baya yang menghampirinya. Tampaknya rumah besar itu hanya dihuni oleh seorang.
Wanita tersebut memandangi gadis itu dengan seksama. "Gadis itu sebenarnya cantik. Hanya saja kecantikannya tidak nampak karena tertutup pakaian lusuh dan pengaruh penderitaan hidupnya," kata wanita itu dalam hati.
Tiba-tiba wanita itu teringat akan anak lelakinya yang meninggalkan dirinya selama ini. Anaknya pergi merantau ke negeri orang dan sudah lama tidak mengirim kabar. Kemudian gadis itu diambil anak angkat olehnya. Wanita itu mempunyai rencana untuk menjodohkan dengan anak lelakinya sepulangnya nanti.
Benar juga, suatu saat anak lelakinya pulang dari rantau dan ketika melihat paras kecantikan anak gadis yang telah diangkat oleh Ibunya itu diapun langsung terpesona.
Jodoh tidak lari kemana, anak lelakinya langsung dijodohkan dengan gadis itu. Akhirnya mereka mengadakan pesta yang sangat besar dan meriah dengan mengundang kenalan yang rata-rata orang kaya dan pejabat negeri itu.
Pengantin lelaki duduk bersanding dengan pengantin wanita. Kemudian mereka makan bersama para undangan. Akan tetapi pengantin laki laki merasa kurang berkenan melihat ulah istrinya yang dianggap tidak sopan makan dengan tangan kiri.
"Jangan memalukan. Apakah engkau tidak bisa makan dengan tangan kanan? Para tamu ibuku adalah pejabat dan orang berpendidikan. Cobalah untuk menyesuaikan dengan mereka."
Pengantin wanita merasa serba sulit karena menyembunyikan cacatnya selam ini sehingga tidak seorangpun tahu apabila sebenarnya pergelangan tangan kanannya telah putus dipotong Ayahnya dahulu.
Namun suaminya terus mendesak. "Dimanakah tangan kananmu? demikian kata pengantin laki laki berulang kali."
Tiba-tiba terdengar suara dari luar, "Keluarkan tangan kananmu. Sungguh, engkau pernah bersedekah dengan sepotong roti secara ikhlas karena Alloh. Maka tanganmu sempurna kembali seperti semula."
Pengantin wanita itu mengeluarkan tangan kanannya seperti ada dorongan dari dirinya karena suara dari luar tadi.
Apa yang terjadi? sebuah keajaiban, telapak tangan kanannya yang selama ini tidak ada lagi karena putus berubah menjadi seperti sedia kala.
Pengantin wanita itu heran atas keajaiban yang menimpa dirinya. Setelah itu dia tidak malu lagi makan bersama suaminya dan para undangan yang hadir. ......
Suatu malan, gadis itu sedang makan dan tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Berilah aku aku sedekah semata-mata karena Alloh, meskipun hanya sepotong roti !"
Gadis itu segera beranjak untuk menghampiri si pengemis. Kemudian dia memberikan sepotong roti kepada pengemis tersebut. Bersamaan dengan itu, ayahnya yang jahat dan kikir pulang sehabis kerja. Lelaki tersebut mengetahui perbuatan anak gadisnya itu. Ia pun melotot dan memarahi anak gadisnya. Si pengemis segera pergi melihat hal itu.
"Bodoh ! Apakah kamu tahu bahwa banyak orang sedang kelaparan. Mereka sedang kesulitan makan sekarang. Enak saja kamu memberikan roti kepada pengemis !" Hardik ayahnya.
"Pengemis itu kesulitan mendapatkan makanan Ayah,! maka aku memberikan sepotong roti untuknya," jawab gadis itu.
"Apa ? Sepotong roti itu sangat berarti. Kamu keterlaluan !." bentak ayahnya. Lalu lelaki itu bergegas ke dapur. Di sana ia mendapatkan pisau yang tajam. Sebentar saja, lelaki itu sudah sampai di hadapan anaknya, kemudian tangan kanan anaknya dipegangnya. Tiba-tiba pergelangan tangan kanan anak gadisnya itu dipotong dengan serta merta.
Tidak lama kemudian, lelaki itu jatuh bangkrut dan semakin menurun sehingga jatuh miskin. Hutangnya menumpuk dan membebani pikirannya. Akhirnya dia jatuh sakit dan meninggal dunia. Beberapa waktu setelah itu, istrinya pun menyusul kemudian. Kini gadis itu menjadi sebatang kara. Sementara itu, perekonomian negeri Israel kembali pulih. Orang-orang yang sebelumnya miskin menjadi makmur kembali. Akhirnya gadis itu terpaksa menjadi peminta minta demi menyambung hidupnya.
Suatu ketika, gadis itu berdiri di depan sebuah rumah yag sangat bagus. Dia berharap jika pemilik rumah kaya itu memberinya sepotong roti atau makanan apapun buat mengisi perutnya yang kosong.
Sesaat kemudian, keluarlah seorang wanita setengah baya yang menghampirinya. Tampaknya rumah besar itu hanya dihuni oleh seorang.
Wanita tersebut memandangi gadis itu dengan seksama. "Gadis itu sebenarnya cantik. Hanya saja kecantikannya tidak nampak karena tertutup pakaian lusuh dan pengaruh penderitaan hidupnya," kata wanita itu dalam hati.
Tiba-tiba wanita itu teringat akan anak lelakinya yang meninggalkan dirinya selama ini. Anaknya pergi merantau ke negeri orang dan sudah lama tidak mengirim kabar. Kemudian gadis itu diambil anak angkat olehnya. Wanita itu mempunyai rencana untuk menjodohkan dengan anak lelakinya sepulangnya nanti.
Benar juga, suatu saat anak lelakinya pulang dari rantau dan ketika melihat paras kecantikan anak gadis yang telah diangkat oleh Ibunya itu diapun langsung terpesona.
Jodoh tidak lari kemana, anak lelakinya langsung dijodohkan dengan gadis itu. Akhirnya mereka mengadakan pesta yang sangat besar dan meriah dengan mengundang kenalan yang rata-rata orang kaya dan pejabat negeri itu.
Pengantin lelaki duduk bersanding dengan pengantin wanita. Kemudian mereka makan bersama para undangan. Akan tetapi pengantin laki laki merasa kurang berkenan melihat ulah istrinya yang dianggap tidak sopan makan dengan tangan kiri.
"Jangan memalukan. Apakah engkau tidak bisa makan dengan tangan kanan? Para tamu ibuku adalah pejabat dan orang berpendidikan. Cobalah untuk menyesuaikan dengan mereka."
Pengantin wanita merasa serba sulit karena menyembunyikan cacatnya selam ini sehingga tidak seorangpun tahu apabila sebenarnya pergelangan tangan kanannya telah putus dipotong Ayahnya dahulu.
Namun suaminya terus mendesak. "Dimanakah tangan kananmu? demikian kata pengantin laki laki berulang kali."
Tiba-tiba terdengar suara dari luar, "Keluarkan tangan kananmu. Sungguh, engkau pernah bersedekah dengan sepotong roti secara ikhlas karena Alloh. Maka tanganmu sempurna kembali seperti semula."
Pengantin wanita itu mengeluarkan tangan kanannya seperti ada dorongan dari dirinya karena suara dari luar tadi.
Apa yang terjadi? sebuah keajaiban, telapak tangan kanannya yang selama ini tidak ada lagi karena putus berubah menjadi seperti sedia kala.
Pengantin wanita itu heran atas keajaiban yang menimpa dirinya. Setelah itu dia tidak malu lagi makan bersama suaminya dan para undangan yang hadir. ......
Jangan Sepelekan Pengemis
Pagi itu sebuah SMS masuk ke handphone Bu Salamah, dari suami beliau yang bekerja di Malaysia. Isinya pemberitahuan bahwa uang kebutuhan keluarga bulan Nopember telah ditransfer. Kontan saja SMS itu membuat Bu Salamah sumringah. Maklum, sejak beberapa hari terakhir, beliau memang sangat menungu-nunggu kabar tersebut. Terlebih anak beliau tertua yang masih kuliah. Ditambah lagi kebutuhan dua anaknya yang lain. Seperti pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba, dengan semangat Bu Salamah bergegas menuju Bank BNI cabang Gresik.
Jarak rumah Bu Salamah sendiri dengan Bank BNI tidak bisa dikatakan dekat, kira-kira 1 jam perjalanan. Untuk itu, seperti bulan-bulan sebelumnya, beliau memanfaatkan satu-satunya Bus yang memiliki trayek ke pusat kota semen tersebut.
"Assalamu'alaikum...Bapak dan Ibu yang saya hormati...." Tiba-tiba muncul seorang anak kecil berpakaian kumal di tengah-tengah penumpang bus yang sedang melaju. Dari pengakuannya, ia adalah anak yatim yang memerlukan sedikit uang untuk sekedar membeli nasi pengisi perut. Setelah menyampaikan "prolog" singkat, anak tersebut segera menengadahkan tangan kepada setiap penumpang.
Ketika tiba di bangku Bu Salamah duduk, mata anak itu terbelalak senang dan bahagia. Didapatinya lembar uang lima ribuan yang disodorkan oleh Bu Salamah. "Alhamdulillah, suwun Bu...suwun Bu....," ucapnya pelan dan hatinya begitu gembira. Ia pun berlalu menuju deret terakhir bangku bus tersebut.
" Oalah Bu..Bu,,,anak seperti itu kok dipercaya? diberi uang lagi..., numan (ketagihan) lho...??!!" cetus seorang wanita muda yang duduk di sebelah Bu Salamah.
Bu Salamah terkaget dan menoleh ke sumber suara. "Tak apa Mbak,,kasihan khan??? cuma lima ribu. Yah,,dari pada nanti dia mencuri atau......" Bu Salamah tak melanjutkan kata-katanya, dan segera mengucap "Astaghfirullah.."
" Saya malas Bu, ngasih uang kepada anak-anak seperti itu. Mereka banyak bohongnya. Oh ya, Ibu mau kemana?."
"Ke Bank juga.."
"BNI?"
"Ya.."
"Berarti kita satu tujuan, Mbak."
Pukul dua siang lewat lima belas menit, Bu Salamah dan Indah, wanita muda itu keluar dari Bank BNI. Mereka segera mencari angkot yang akan membawa mereka ke halte dimana bus biasa ngetem menunggu penumpang. Tanpa mereka sangka, seorang lelaki tegap bergelang akar bahar di tangan kanannya, dengan aroma menyengat minyak wangi Arab menepuk pundak mereka. Dan, dengan ramah lelaki tersebut menawarkan tumpangan gratis sampai ke rumah.
Pada mulanya Bu Salamah menolak tawaran itu karena beliau mencium gelagat yang tidak beres. Tetapi karena Indah mendesaknya maka terpaksa beliaupun turut serta. Ya, Indah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya oleh kata-kata manis lelaki tersebut.
Masuklah mereka berdua ke dalam mobil lelaki tersebut. Apa yang terjadi? ternyata di dalam mobil sudah ada tiga lelaki lain. Mobil segera melaju. Di tengah-tengah perjalanan, tidak henti-hentinya mereka merayu Indah dan Bu Salamah.
"Sepertinya cincin dan kalung Mbak ini mahal ya? boleh saya lihat?.kata salah seorang dari mereka.
Dan, Indah pun meyerahkannya. Termasuk akhirnya Indah memberikan tas yang berisi uang yang baru saja diambilnya dari Bank BNI.
Para lelaki itu telah mampu memperdaya Indah, bagaiman dengan Bu Salamah? Ibu tiga anak ini seperti mendapatkan kekuatan untuk melawan pengaruh mantra mereka sehingga merekapun akhirnya marah.
Bu Salamah tidak sudi menyerahkan satu perhiasanpun apalagi tas berisi uang yang baru saja diambilnya itu. Akhirnya mereka menghentikan mobil tersebut dan memaksa kedua perempuan itu turun, kemudian mobil itupun tancap gas.
Sesaat setelah itu, sadarlah Indah kalau ternyata ia terkena gendam. Indah menangis sejadi-jadinya dan menyesali kebodohannya. Bu Salamah kemudian menghiburnya, kemudian beliau langsung teringat akan kejadian tadi pagi. "Subhanalloh, jangan-jangan sedekah lima ribu kepada anak yatim itu yang mengundang perlindungan Alloh SWT atas diriku..?" ucapnya lirih.
Jarak rumah Bu Salamah sendiri dengan Bank BNI tidak bisa dikatakan dekat, kira-kira 1 jam perjalanan. Untuk itu, seperti bulan-bulan sebelumnya, beliau memanfaatkan satu-satunya Bus yang memiliki trayek ke pusat kota semen tersebut.
"Assalamu'alaikum...Bapak dan Ibu yang saya hormati...." Tiba-tiba muncul seorang anak kecil berpakaian kumal di tengah-tengah penumpang bus yang sedang melaju. Dari pengakuannya, ia adalah anak yatim yang memerlukan sedikit uang untuk sekedar membeli nasi pengisi perut. Setelah menyampaikan "prolog" singkat, anak tersebut segera menengadahkan tangan kepada setiap penumpang.
Ketika tiba di bangku Bu Salamah duduk, mata anak itu terbelalak senang dan bahagia. Didapatinya lembar uang lima ribuan yang disodorkan oleh Bu Salamah. "Alhamdulillah, suwun Bu...suwun Bu....," ucapnya pelan dan hatinya begitu gembira. Ia pun berlalu menuju deret terakhir bangku bus tersebut.
" Oalah Bu..Bu,,,anak seperti itu kok dipercaya? diberi uang lagi..., numan (ketagihan) lho...??!!" cetus seorang wanita muda yang duduk di sebelah Bu Salamah.
Bu Salamah terkaget dan menoleh ke sumber suara. "Tak apa Mbak,,kasihan khan??? cuma lima ribu. Yah,,dari pada nanti dia mencuri atau......" Bu Salamah tak melanjutkan kata-katanya, dan segera mengucap "Astaghfirullah.."
" Saya malas Bu, ngasih uang kepada anak-anak seperti itu. Mereka banyak bohongnya. Oh ya, Ibu mau kemana?."
"Ke Bank juga.."
"BNI?"
"Ya.."
"Berarti kita satu tujuan, Mbak."
Pukul dua siang lewat lima belas menit, Bu Salamah dan Indah, wanita muda itu keluar dari Bank BNI. Mereka segera mencari angkot yang akan membawa mereka ke halte dimana bus biasa ngetem menunggu penumpang. Tanpa mereka sangka, seorang lelaki tegap bergelang akar bahar di tangan kanannya, dengan aroma menyengat minyak wangi Arab menepuk pundak mereka. Dan, dengan ramah lelaki tersebut menawarkan tumpangan gratis sampai ke rumah.
Pada mulanya Bu Salamah menolak tawaran itu karena beliau mencium gelagat yang tidak beres. Tetapi karena Indah mendesaknya maka terpaksa beliaupun turut serta. Ya, Indah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya oleh kata-kata manis lelaki tersebut.
Masuklah mereka berdua ke dalam mobil lelaki tersebut. Apa yang terjadi? ternyata di dalam mobil sudah ada tiga lelaki lain. Mobil segera melaju. Di tengah-tengah perjalanan, tidak henti-hentinya mereka merayu Indah dan Bu Salamah.
"Sepertinya cincin dan kalung Mbak ini mahal ya? boleh saya lihat?.kata salah seorang dari mereka.
Dan, Indah pun meyerahkannya. Termasuk akhirnya Indah memberikan tas yang berisi uang yang baru saja diambilnya dari Bank BNI.
Para lelaki itu telah mampu memperdaya Indah, bagaiman dengan Bu Salamah? Ibu tiga anak ini seperti mendapatkan kekuatan untuk melawan pengaruh mantra mereka sehingga merekapun akhirnya marah.
Bu Salamah tidak sudi menyerahkan satu perhiasanpun apalagi tas berisi uang yang baru saja diambilnya itu. Akhirnya mereka menghentikan mobil tersebut dan memaksa kedua perempuan itu turun, kemudian mobil itupun tancap gas.
Sesaat setelah itu, sadarlah Indah kalau ternyata ia terkena gendam. Indah menangis sejadi-jadinya dan menyesali kebodohannya. Bu Salamah kemudian menghiburnya, kemudian beliau langsung teringat akan kejadian tadi pagi. "Subhanalloh, jangan-jangan sedekah lima ribu kepada anak yatim itu yang mengundang perlindungan Alloh SWT atas diriku..?" ucapnya lirih.
Langganan:
Postingan (Atom)

